Pohon pisang tidak akan pernah mati walau ditebas ribuan kali sebelum ia berbuah. Ia akan terus tumbuh, merekahkan daun-daun baru. Lihatlah, tebas sekarang, ia akan menemukan pelepah daun barunya esok atau lusa. Karena itulah janji pohon pisang. Ia tak akan pernah mati sebelum berbuah. Tapi sekali ia berbuah, maka saat kau tebas batangnya, pohonnya akan mati, akarnya akan layu. Begitu pula seharusnya dongeng, mimpi2, cita2 kita. Berjanjilah tak akan pernah mati sebelum menyelesaikkannya. Berjanjilah seperti pohon pisang, yang tak akan layu, meski ditebas cobaan sebanyak apapun.
Saya tahu, tidak ada yang salah dengan memiliki keinginan punya HP baru yang canggih. Punya motor keren seperti teman. Pengin nonton konser, pengin jalan-jalan, pengin tas, baju, sepatu, dan semua keinginan lainnya. My dear anggota page yang masih remaja dan usia sekolah, tentu saja boleh kepengin hal-hal tersebut. Nah, yang tidak boleh, jangan sampai kita menambah beban pikiran orang tua. Merajuk, marah2, boikot, dsbgnya. Boleh jadi, tanpa kita tambahi dengan permintaan, boleh jadi loh, setiap malam mereka sudah menghela nafas panjang memikirkan kita--meski kita tidak tahu. Toh, terkadang keinginan kita hanya ingin saja, tidak banyak manfaatnya, kecuali untuk keren-kerenan. Jadilah selalu remaja yang bisa meringankan beban orang tua. Dan cara tercepatnya tidak perlu ikut bekerja, mencari uang sendiri; melainkan cukup dengan terus belajar yang giat, sekolah yang sungguh2, kita sudah membantu banyak. --Tere Liye
Kisah 7 kilogram beras Hidup ini persis seperti seorang remaja yang mengumpulkan remah beras (atau disebut juga beras sisa) di pasar induk. Dia ambil beras yang berceceran di lantai, jalan, lapangan, truk kosong. Beras2 yang tercecer. Dia dibolehkan oleh juragan beras melakukannya, karena toh beras2 itu tidak penting dibandingkan ratusan karung yang dijual beli di pasar tersebut setiap harinya. Dan bagi juragan beras, itu membantunya, membuat pasar terlihat bersih dari ceceran beras (dan juga sampah lain). Setiap hari, dari pagi hingga malam tiba, remaja ini berhasil mengumpulkan satu ember beras (katakanlah kurang lebih 7 kilogram). Atas 7 kilogram beras itu, 4 kg dia jual ke pengumpul, uangnya untuk makan sehari-hari adik2nya (atau jika tidak dijual, digunakan untuk menanak nasi), 2 kg dia simpan di karung di rumah kardusnya, 1 kg lagi dia berikan ke tetangga perkampungan kumuhnya. Kadang diberikannya kepada nenek yang tinggal sendirian sakit2an, kadang juga diberikannya ke tetangga lain yang lebih susah hidupnya. Begitulah ilustrasi hidup kita ini. 4 kg yang dijual, menjadi uang, atau ditanak jadi nasi adalah untuk hidup. Habis begitu saja setiap harinya. Dimakan jadi (maaf) kotoran. 2 kg yang disimpan adalah tabungan dunia-nya, besok lusa saat adik2nya sakit, dia punya sesuatu untuk membeli obat. 1 kg yg dia sedekahkan adalah tabungan akheratnya, besok lusa pasti akan bermanfaat untuknya. Dan inilah sesungguhnya arti kehidupan, tabungan sejati yang tdk akan tertukar. Aduhai, barangsiapa yang tidak memahami hakikat hidup ini, maka sungguh dia akan menjadi orang2 yang merugi. Ingatlah, makanan lezat yg kita kunyah, hanya akan terbuang menjadi kotoran. Pakaian mahal yg kita kenakan, esok lusa hanya sobek, kusam, rusak dan tidak menarik lagi dipakai. Gagdet2, peralatan mewah yg kita miliki, pun besok lusa akan teronggok saja, tidak menarik, termasuk jam tangan puluhan juta, tidak akan tersisa kepantasannya. Debu menjadi debu. Tanah kembali jadi tanah. Dunia kembali menjadi dunia. Tidak berubah hakikatnya. Juga tabungan dunia yang kita kumpulkan, besok lusa boleh jadi berguna saat terdesak, tapi dia tetaplah tabungan duniawi. Orang kaya raya dengan harta tabungan menggunung, investasi seluas pulau, ketika meninggal, maka hartanya hanya habis dibagi2kan utk keturunannya--atau istri mudanya. Tidak ada yang dibawa. Tetap menetap di atas dunia ini. Tinggallah 1 kg beras tersisa terakhir, yg dibagikan kepada tetangga2 fakir miskin. Inilah sesungguhnya definisi kehidupan. Tapi itupun kalau kita rajin menyisihkannya. Jika tidak? Maka kita tidak punya apapun lagi untuk tabungan di masa ketika tiada lagi waktu untuk menabung. Aduhai, betapa malangnya. Begitulah ilustrasi hidup kita ini. Sungguh beruntung bagi yg memikirkannya--semoga kita termasuk di dalamnya.
kita akan tumbuh kawan. menjadi laki2 yang baik hati nya,lurus niatnya, teladan prilakunya. kita akan tumbuh kawan. membangun nergeri ini bangsa ini bersama2 betapa buruknya atau bseberapa jeleknya kita akan teteap memilih peduli dan mencintai. kita akan tumbuh kawan. menjadi laki2 yang membahagiakan ayah dan ibu kita. dan tanpa di sadari mereka berkata itu anak ku dunia ya dia anak2 ku yang membangakan. kita akan tumbuh kawan. walau lewat keadaan yang amat menyakitkan sekalipun. kita akan bertahan kawan iya bertahan. sampai melewati ambang batas dan mendapat pemahan yang baik dari semua masalah. kita akan tumbuh kawan jadi laki2 yang sanggup memimpin dan menajdi imam. bagi calon keluarga kita. ayoalh jangan pesimis banyaklah berdoa dan bekerja keras. Menjadi dewasalah dengan semua pengalaman hidup Desember 10 2013 DA
*Sajak Pekerjaan Nak, jangan jadi pengacara kalau kau tidak kuat. Membela yang kaya (dan nyata2 salah), kau masuk neraka, meski banyak uangnya. Membela yang miskin dan papa (nyata2 benar), musuhmu menggunung di dunia, pun miskin pula kau, bujang. Nasib sekali profesi ini, sama dengan profesi hakim, jaksa dan sebagainya. Nak, jangan jadi dokter kalau kau tidak tulus. Susah payah menimba ilmu (mahal pula), kadang hanya dibayar dengan ucapan terimakasih. Saat hendak menuntut imbalan dan perhatian yang layak dari pemerintah, malah disangka penuntut dan tidak ihklas. Ini pun serupa dengan bidan dan petugas kesehatan lainnya, mahfumnya demikian. Nak, jangan jadi guru kalau kau tidak tahan. Menghabiskan waktu berhari2 mengajari murid2, dianggap memang itulah tugasnya. Biasa sajalah. Saat murid2nya tidak pintar, bandel, nakal, yang disalahkan adalah gurunya. Ini pun sama dengan pekerjaan guru ngaji, tutor, dosen dan sebagainya. Nak, jangan jadi polisi kalau kau tidak gagah perkasa. Bukan gagah perkasa fisiknya, karena itu memang harus. Tapi gagah perkasa hatinya. Membela orang salah (tapi berkuasa), kelak teman kau di neraka banyak. Membela orang benar (tapi lemah), musuh kau di kantor yang bisa jadi banyak sekali. Ini senasib dengan pekerjaan sipir dan sejenisnya. Nak, jangan jadi PNS kalau kau tidak mantap, aduh rumit sekali sebutan ini. Kau kaya disangka korup. Kau jalan2 di mall disangka kelayapan. Kau banyak internetan disangka maling waktu. Padahal boleh jadi ada PNS yang job desc-nya demikian--terlepas yang lebih banyak tidak. Belum lagi bisik2 dan tatapan2 meremehkan lainnya, kecuali kau mantap, Nak. Nak, jangan jadi karyawan atau buruh kalau kau tidak sungguh2. Giat bekerja sesuai waktu memang begitulah SOP dan kebutuhannya. Diperintah dan disuruh2 sudah resikonya. Bekerja tiap hari hanya membuat pemilik perusahaan tambah kaya raya. Seolah terjamin masa tua, digaji mahal, tapi lupa berapa harganya masa muda yang diberikan. Hanya untuk pensiun dan menerima selembar kertas masa bakti dan ucapan terima kasih. Aduh, Bapak pusing sekali harus memberi tahu, kelak kau sebaiknya jadi apa. Sepertinya semua pekerjaan punya resikonya. Maka baiklah, kita fokus saja pada hal terpentingnya. Semoga besok lusa kau tumbuh jadi anak yang kuat, tahan banting, tulus, mantap, sungguh2 Maka, apapun profesinya, kau siap Tetap berdiri tegar dengan pemahaman terbaiknya. *Tere Liye
kita sekolah di ajarkan menjadi penakut, lalu apa bedanya sekolah dengan panci bertekanan uap tinggi. kita sekolah tapi di ajarkan menjadi pengikut bukan pemimpin, lalu apa bedanya dengan tempat kerja. kita sekolah tapi di ajarkan realistis sama masa depan, yang sebenarnya kita harus di tumbuhkan mimpi2 nya, lalu apa beda nya dengan dunia. banyak hal justru salah di bentuk di KEBANYAKAN sekolah, di SD, SMP, SMA, bahkan kuliah. lalu buat apa kita sekolah tinggi2 ketika kita tidak bisa bebas memilih apa yang terbaik bagi kita. semoga sekolah2 hebat selalu membentuk karakter murid2 nya, sekolah yang mengajarkan keberanian hidup.
Aku takut ketika aku mengenal dunia aku melupakanMu
sesuatu yang merubah diriku padaMu
Aku takut ketika aku jatuh cinta pada dia, cintaku padanya melebihi cintaku padaMu
Karena aku hanya manusia yang tak pandai membagi rasa
Aku takut ketika aku telah pandai, aku melupakanMu
Sebagai dampak keangkuhanku yang salah kepadaMu
Aku takut ketika aku melangkah tanpa iringan ridhoMu
Karena aku tahu aku hanya bisa meminta kepadaMu
Aku tajut aku melupakan kasih sayangMu yang banyak dan Tulus
Terbiasa dibimbing menjadi manusia yang memiliki pendirian baik
Apa yang aku dapat ketika aku meningalkanMu ?
Apa yang akan aku raih ketika aku lupa cintaMu ?
Apa yang aku perjuangkan jikalau bukan ridhoMu ?
Semua jawabanya tak ada ya Allah.
Maka bimbinglah hambamu yang kecil dan rapuh ini agar belajar dari kehidupan manusia-manusia sebelumku, dan biarkan yang lain belajar dengan cinta dari ajaran Rasulullah Saw untuk mengenalMu. Agar kami mendapat rahmat dalam hidup yang lebih baik karena kau takut aku melupakanMu ya Allah, ya Rasulullah, kepada kitabMu Al-Quran dan lupa pada malaikat yang selalu mendo






